Bicara Soal Politisasi Agama


Politisasi Agama

“Katanya kamu anti politisasi agama. Kenapa belakangan ini nulis soal politik, dikait-kaitkan dengan isu agama terus? Kamu masuk ke tema yang dulu kamu protes,” tanya seorang teman. Dia sepertinya protes dengan tema-tema tulisan saya belakangan ini.

“Pasti karena Cawapres jagoanmu seorang ulama, ya? Ulama tulen. Bukan ulama jadi-jadian,” sambungnya lagi.

Sebentar. Saya membetulkan celana yang kedodoran, sebelum menjawab.

Tahu gak, berapa juta umat Islam yang tertipu bahwa Pilkada Jakarta sama dengan perjuangan agama? Padahal sejatinya itu cuma pemilu lima tahunan saja. Tapi saat itu, umat dibombardir dengan slogan-slogan bela agama. Seolah mereka sedang berperang dengan saudara sebangsanya sendiri.

Ada orang meninggal jenazahnya sampai ditolak untuk disholatkan. Ada aksi bela Islam berjilid-jilid. Ada eksploitasi simbol-simbol agama di mesjid dan mushola. Semuanya untuk kepentingan politik Pilkada. Sayangnya sebagian umat percaya bahwa mereka benar-benar sedang berjuang buat agamanya. Padahal cuma untuk Pilkada saja. Cuma urusan kursi Gubernur atau hanya untuk menguasai APBD Rp70 triliun.

Tahu gak, berapa juta umat yang tertipu dan menyangka bahwa Ijtima Ulama itu benar-benar cara para ulama menentukan seorang Capres dan Cawapres. Sebagian umat Islam mengira, ulama yang ngumpul di acara itu sedang mencalonkan pemimpin dengan kualitas keislaman terbaik. Wong, direkomendasikan oleh ulama.

Tahu gak, berapa umat yang tertipu bahwa di Indonesia ini ada dua jenis partai : koalisi Prabowo-Sandi disebut partai Allah, dan koalisi Jokowi-Kyai Makruf dituding partai setan.

Tahu gak, berapa umat yang tertipu bahwa memberikan sumbangan sumbangan untuk kampanye Prabowo-Sandi itu sama dengan berjihad? Bayangkan, berjihad, boo. Jihad sedang diobral seharga Rp5 juta saja.

Tahu gak, mushola dan masjid kita banyak dikotori oleh dai-dai yang kelakuannya lebih dari sekadar juru kampanye. Mereka memelintir ayat dan hadist untuk mencaci maki lawan politiknya. Mereka berkoar-koar di mimbar-mimbar agama untuk menyerang. Mereka seperti menaruh lumpur kotor di mihrab yang semestinya sebagai tempat menebarkan nasihat dalam kebaikan dan kesabaran.

Coba bayangkan berapa juta orang yang tertipu dan dibohongi para pengasong agama itu, padahal tujuannya cuma untuk memenangkan Pilpres.

Pilpres itu soal rutin lima tahunan. Sekarang kita kampanye. Lima tahun lagi kita juga kampanye. Akan begitu seterusnya. Artinya Pilpres atau Pilkada hanya peristiwa rutin dalam alam demokrasi kita. Betapa bahayanya jika untuk kekuasaan yang lima tahun sekali berganti kita menggunakan ayat-ayat Allah untuk kampanye. Kita mengeksploitasi Islam untuk politik praktis.

Ketika mereka menjajakan Prabowo-Sandi dengan slogan-slogan agama, eh tetiba publik dikagetkan oleh suasana yang sebenarnya. Bahwa calon yang mereka gadang-gadang gak ada bau-bau agamanya. Prabowo salah melulu menyebutkan gelar yang biasa diucapkan umat Islam. Hulaihi-lah. Watuloh-lah.

Mereka mengatakan Prabowo mewakili umat Islam. Padahal keluarga besarnya bukan beragama Islam. Dia ikut merayakan Natal bersama keluarganya. Tahu gak? Ulama-ulama yang ngumpul pada acara Ijtima Ulama itu sebagian besar mengharamkan mengucapkan selamat Natal. Apalagi merayakannya.

Bagaimana mereka di satu sisi mengharamkan perilaku Prabowo, di sisi yang lain malah memasarkan Prabowo sebagai pilihan umat Islam. Bahkan memasarkan di masjid dan mushola. Dimana konsistensinya?

Apalagi Sandiaga. Dia didapuk sebagai santri dan ulama sekaligus. Ketika berziarah ke makam seorang kyai besar untuk menarik hati warga NU. Eh, makamnya malah dilangkahi. Apa gak bikin kaget?

Kalau orang-orang seperti ini selalu dikampanyekan dengan bungkus slogan-slogan agama, itu namanya menipu umat Islam. Memperdaya kepentingan politik belaka.

Nah, kenapa saya belakangan menulis soal perilaku beragama Prabowo dan Sandiaga? Agar kita semua tahu, calon yang digadang-gadang dengan slogan agama ternyata gak bisa dikatakan mewakili Islam. Karena sebetulnya kita memilih Presiden, bukan memilih khotib Jumat. Jadi jangan mau lagi ditipu dengan slogan politik berbungkus agama.

Justru inilah kesempatan untuk meluruskan, bahwa Pilpres ini adalah ajang adu program, adu gagasan, adu keterampilan memimpin bangsa. Bukan ajang jihad dan membela agama. Pilpres cuma memilih siapa yang terbaik untuk bangsa ini lima tahun ke depan. Buktinya yang teriak-teriak jihad ternyata Capresnya malah kedodoran dalam soal keagamaan.

Tapi seorang teman malah mengkhawatirkan bahwa soal isu agama itu jagonya mereka. Jadi sebaiknya gak usah masuk ke isu itu.

Lho, ini bukan soal menang dan kalah dalam Pilpres. Ini soal bagaimana membangunkan sebagian orang yang ditipu mentah-mentah memakai bungkus agama. Jadi justru penting kita utarakan terus menerus. Ini saat yang tepat, ketika calon mereka makin menunjukan siapa dirinya. Untuk membongkar kedok para pengasong agama itu. Kita kembalikan politik pada jalurnya. Kita juga kembalikan nilai-nilai agama pada kesuciannya.

“Bisa gak sih, kalau mau menggelar Pilpres lagi orang-orang itu gak usah dikasih tahu. Gak usah diajak lagi. Ribet, kan mas?,” celetuk Abu Kumkum.

Eko Kuntadhi

Diskusi di Facebook


Like it? Share with your friends!

Redaksi

Platform media yang menyajikan berita dari media arus utama di Indonesia.