Jokowi: From Zero To Hero


Jokowi

Saya ingin mengatakan ini secara jujur: “Jokowi adalah anugerah dari Tuhan untuk negeri ini”.

Berbicara prestasi seorang Jokowi, jari tangan kita akan kesulitan menghitungnya. Bahkan jika ditambah dari jari kaki. Mungkin sedikit membantu jika meminjam dari kaki beberapa orang.

Meskipun lawan politiknya tak mau mengakui sederet prestasi tersebut, dan lebih memilih jalan lain yang mulai tercium busuk, dunia telah mengakui kepempinan Jokowi telah menciptakan banyak perubahan bagi negeri ini.

Jokowi bukanlah siapa-siapa. Ia terlahir jelata. Hidup di tengah-tengah kesederhanaan. Memulai semua kehidupannya dari nol, “from zero”.

Jokowi kecil dikenal pendiam. Ia tak suka keramaian. Bahkan, saat duduk di bangku SD, Jokowi dikisahkan suka nangis saat pulang sekolah.

Kehidupan seorang Jokowi kecil tak jauh berbeda dari anak-anak lain di negeri ini.

Tapi, ada yang unik. Sejak kecil, Jokowi dikenal sebagai anak yang perhatian dan peduli dengan orang lain. Sehingga, ia dikenal sebagai sosok yang tak banyak dan pandai bicara, tapi lebih banyak berbuat untuk orang lain.

Jokowi tak pernah lupa dengan teman-temannya. Sutarti menjadi saksi sifat rendah hati kerabatnya yang kini menjadi orang nomor satu di Indonesia.

Sewaktu menjadi Walikota Solo, Jokowi selalu menyempatkan berkunjung ke Sutarti, yang kini menjadi Kepala Sekolah sebuah Kelompok Bermain di Nusukan, Solo. Bahkan saat menjadi Gubernur DKI Jakarta kebiasaan ini tidak ia tinggalkan.

Sutarti tak menyangka anak kecil kurus yang suka nangis sewaktu pulang sekolah itu kini menjadi orang paling penting di negeri ini. Itu sangat beralasan, sebab sangat jarang seorang warga sipil yang tak berdarah biru, bukan bangsawan, juga minim pemberitaan, mempunyai karir politik yang melesat jauh, melampaui pendahulu-pendahulunya.

Tidak terlalu naif jika saya katakana di awal, Jokowi adalah anugerah dari Tuhan untuk bangsa ini. Sebab, sebagaimana kemerdekaan merupakan berkat dan rahmat dari Tuhan Yang Maha Kuasa, maka kehadiran Jokowi dalam kancah politik dalam negeri juga demikian.

Jokowi hadir di tengah-tengah gurita politik yang semuanya bergantung pada uang, partai, dan ketokohan. Ia mampu menembus dinding-dinding penghalang itu. Merobohkan sebuah pakem yang telah berkuasa selama puluhan tahun, meski kita telah masuk ke era yang lebih terbuka, reformasi.

Jokowi adalah sebuah realitas nyata sebuah drama kehidupan, yang pada kenyataannya hidup juga bisa seindah khayalan di siang bolong. Ia merupakan pemenuhan mimpi setiap anak bangsa bahwa menjadi pemimpin adalah hak setiap warga negara.

Tak peduli jika ia hanya seorang tukang kayu. Bahkan jika ia adalah anak tukang becak. Atau anak penjual sayur keliling yang semakin gerah dengan tingkah seorang calon pemimpin yang jarang ke pasar, tiba-tiba sekarang ia harus blusukan ke pasar-pasar.

Jokowi menjadi bukti, memimpin negeri ini tak mesti dimulai dengan menjadi kaya-raya. Cukup menjadi sosok yang sangat peduli dengan sesama. Juga memiliki keresahan untuk menciptakan perubahan yang lebih baik lagi.

Kita bisa menemukan sosok seperti Jokowi dimana-mana. Bahkan di tujuh puluh lima ribu desa di negeri ini akan banyak ditemukan sosok-sosok semisal Jokowi disana.

Orang-orang yang rendah hati. Tidak banyak bicara, tapi banyak bekerja. Mempunyai kepedulian yang tinggi dengan lingkungan. Serta resah terhadap kehidupan yang begitu-begitu saja.

Mereka lah orang-orang yang peduli dengan pembangunan. Perubahan. Juga kehidupan yang lebih baik lagi.

Anak-anak tak perlu lagi takut untuk bermimpi menjadi presiden. Mereka kini bisa berandai-andai, bermimpi atau sekedar berimajinasi dengan segala keterbatasan mereka.

Dengan kesederhanaannya, kesantunannya, dan karakternyanya yang disebut “ndeso”, Jokowi menjadi idola baru anak-anak desa juga setiap anak yang tinggal di pelosok negeri. Dimana peradaban modern masih sangat terbatas.

Jokowi kini menjadi “hero” bagi kaum yang terpinggirkan. Ia membangun jalan bagi mereka. Membuat BBM satu harga. Ia juga tengah memperjuangkan penerangan juga listrik masuk ke kampung-kampung.

Ia tahu, kebijakan ini sangat tidak menguntungkan. Dimana ini seringkali dihindari oleh pendahulunya yang ingin lanjut dua periode. Tapi, inilah kepedulian yang murni dari seorang Jokowi. Inilah bukti keberpihakannya kepada rakyat kecil.

Sehingga, sangat logis bagi saya sebagai warga negara memberikan waktu tambahan untuk Jokowi melanjutkan pekerjaan pembangunan di negeri ini lima tahun lagi.

#01IndonesiaMaju

#JokowiLagi

Diskusi di Facebook


Like it? Share with your friends!

Redaksi

Platform media yang menyajikan berita dari media arus utama di Indonesia.