Jokowi: Menuju Cahaya Ekonomi Maju


Ketika Jokowi menjadi presiden, ekonomi Indonesia di jurang kebangkrutan. Bahkan secara akuntansi sudah insolvent

Mengapa ? Sejak tahun 2012 total penerimaan negara di kurangi belanja sudah defisit.

Jadi tidak tersisa untuk bayar hutang dan bunga.

Selama itu SBY melakukan gali lobang tutup lobang dengan permainan anggaran, yang tingkat pencapaiannya dibawah 70%, agar hutang lebih dulu dibayar.

Namun tahun 2014 , akhirnya pihak Pasar uang mengetahui bahwa fundamental ekonomi Indonesia lemah. APBN kita dinilai tidak kredible.

Sama dengan Turki, Artinya lebih banyak politiknya daripada ekonomi.
Apalagi dalam APBN perubahan 2014 defisit primer sudah menjadi Rp 111 triliun.

Ketika teman saya di pemerintahan bilang bahwa ada usulan kepada Jokowi menerima tawaran menerbitkan GLobal Bond melalui 144 A untuk dapatkan uang cepat mengatasi Defisit itu. World bank memberikan tawaran standby loan. Tapi itu semua di tolak Jokowi.

Mengapa ? Jokowi itu benar benar pengusaha cara berpikirnya. Sangat praktis dan realistis. Kata teman saya. Baginya masalah Indonesia itu bukan soal financial resource atau revenue resource.

Indonesia negara besar dan akan selalu ada sumber daya untuk membiayai defisit tapi cara seperti itu akan

membuat Indonsia semakin lemah dan tak akan pernah mandiri.

Masalah Indonesia lebih karena masalah mental. Pinter ngutang tapi tidak smart mengelola hutang. Akibatnya bukannya surplus tapi malah minus.

Dan itu terjadi bukan hanya era SBY tapi juga presiden lainnya. Jokowi engga mau dicatat sejarah oleh anak cucunya sebagai follower dari hal yang brengsek sebagai pecundang.

Makanya, Jokowi lebih focus membenahi akar masalah dari adanya defisit itu. Apa akar masalahnya ? ya Belanja yang tidak tepat sasaran.

Jadi kalau sampai Jokowi tega menghapus subsidi BBM, bukan karena dia tidak mencintai rakyatnya.Bukan. Tapi karena memang tidak ada jalan lain agar negara ini tetap jalan dalam keadaan terhormat.

Kemudian, Jokowi melakukan reformasi APBN dan ini benar benar seperti angin tornado bagi para dunia usaha dan elite politik. Mengapa ? Karena kebijakan ekonomi harus bertumpu kepada pendapatan real yang tidak ada distorsi dengan bisnis rente.

Goodwill Jokowi dalam bidang ekonomi membuat pening semua orang. Dan dia berhasil. Apa hasilnya? dalam tiga tahun dia berkuasa, APBN kita dinilai kredible oleh Financial Community.

Belanja dan penerimaan, dapat dimonitor oleh pemain pasar secara transparan. Ketika APBN sehat maka pasar akan bereaksi positif.

Kalaupun pemerintah berhutang kepasar , itu bukan politik, tapi memang business. Artinya tidak ada deal politik kecuali yield dan trust market.

Jadi, kalau Jokowi melakukan serangkaian kebijakan ekonomi dengan focus membuat APBN kredibel, yang membuat elite politik dan pengusaha pening, itu bukan kemauan Jokowi atau alasan benci ala sosialis atau dendam sosialis. Tapi memang dia engga punya pilihan agar Indonesia bisa maju dan mandiri secara terhormat.

Kalau ingin pemerintah punya financial freedom melaksanakan agenda besarnya ya pastikan pasar percaya bahwa negara ini diurus dengan profesional bukan dengan emosional politik pakai daster atau pakai keris petantang petenteng naik kuda.

Era telah berubah. Tidak ada kebijakan besar bisa jalan tanpa uang. Lihatlah bagaimana Sandi dengan jelas mengatakan tidak ada janji OK OCE akan memberikan modal usaha.

Hanya orang bego yang percaya.
Dan kalau sampai memilihnya karena percaya janjinya itu maka begonya kuadrat.

Lantas dimana salahnya Jokowi ? Tanya saya kepada teman.

Ya salahnya jokowi karena dia bukan Dai keren, yang bisa dakwah dan punya mobil hammer, rubicon, atau alphard dan istri lebih dari satu.

Salahnya dia bukan jenderal yang punya kuda tunggangan seharga lebih dari semiliar rupiah.

Jokowi bukan elite politik yang punya partai pribadi yang bisa seenaknya jadikan anak dan istrinya sebagai pengurus partai.

Jokowi bukan pengusaha yang punya besan kaya raya karena rente ekonomi. Jokowi bukan orang dekat keluarga cendana yang punya TV, dan selir artis. Salahnya Jokowi karena dia tukang kayu , terlahir dari keluarga miskin, engga punya rubicon dan Alphard. Anaknya jualan martabak, dan istri juga hanya satu. Itu aja kesalahan Jokowi.

Jadi kebencian orang kepada Jokowi adalah kebencian kaum feodal, dan orang bego yang disuruh koar koar..dengan menyebut dirinya Jokodok…dan pendukungnya juga dianggap kecebong..dah gitu aja..
.
.
.
Afriyanto Arifin

Diskusi di Facebook


Like it? Share with your friends!

Redaksi

Platform media yang menyajikan berita dari media arus utama di Indonesia.