Politik Itu Politik


Dalam sistem demokrasi memang ada istilah suara rakyat suara Tuhan. Tetapi tahukah anda bahwa suara rakyat itu tidak datang secara bebas ? Ia datang lewat design politik.

Walau suara rakyat suara Tuhan, namun kehadiran Tuhan dalam pemilu lewat design para elite politik. Kemana arah design politik itu ? Ya tergantung dari penguasa. Soeharto berkuasa 32 tahun.

Demokrasi didesign seperti maunya agar setiap akhir periode kekuasaannya bisa berlanjut ke periode berikutnya. Dimanapun sama saja. Itu sah saja.

Bahkan Arab Saudi menerapkan demokrasi lewat sistem Monarki agar kekuasaan tetap ditangan keluarga raja. Ada yang bermimpi ingin mendirikan khilafah. Agar gerombolannya bisa berkuasa dengan menerakan hukum islam. Kekuasaan hanya jatuh diantara para sahabat ulama saja.

Pada era kekuasaan Jokowi, suka tidak suka, design politik dicreate oleh PDIP bersama partai koalisi.

Perhatikan, Dengan disahkannya UU Pemilu yang baru, itu merupakan design politik agar koalisi itu bukan hanya soal kumpul-kumpul tetapi lebih daripada itu adalah penentu menjadi pemenang dalam pemilu.

Penentu dalam mengusung calon presiden. Pilpres dan Pileg dilakukan bersamaan. Yang tadinya terpisah. Ini memaksa koalisi harus menjadi koalisi solid. Renta ya gagal.

Apakah ini cukup ? Belum. Ada lagi diatur dalam UU ketentuan mengenai ambang batas lolos ke Senayan. Ini pasal menjadi menakutkan bagi partai yang lemah. Membuat mereka mudah goyah dalam berkoalisi.

Cukup ? Belum. Ada lagi aturan yang menghapus terpilihnya caleg ditentukan dengan nomor urut. Sehingga tidak ada lagi nomor bawah menyumbang suara ke nomor diatasnya.

Semakin kecil nomor urut semakin mudah terpilih. Artinya bisa saja suaranya lebih banyak disumbang oleh kader partai yang ada di nomor urut dibawahnya.

Kini setiap caleg harus berjuang untuk mendapatkan suara sendiri. Engga tercapai suara ya gagal. Suara yang sudah ada menjadi hangus. Aturan ini membuat kader partai mudah pragmatis.

Contoh, kalau konstituennya lebih banyak pilih Jokowi walau dia bukan dari partai pendukung Jokowi, dia akan tetap mendukung Jokowi agar konstituennya tidak lari ke partai lain. Itu wajar saja. Maklum mereka ongkosi sendiri untuk jadi politis. Partai hanya kendaraan saja.

Cukup? Belum ! Kader ruling party juga melakukan operasi senyap menggembosi kekuatan kubu lawan. Itu tidak dilakukan bukan hanya ketika masa kampanye. Tapi jauh sebelumnya sudah dilakukan operasi senyap.

Terpilihnya Sandi sebagai Cawapres adalah berkat kehebatan operasi senyap dari ruling party.

Bayangkanlah kalau sampai yang jadi cawapres Prabowo adalah Salim Segaf Al-Jufri dari PKS yang juga dikenal sebagai tokoh Habib dan paling disegani oleh ulama ? Itu akan jadi killing field bagi ruling party. Keadaan politik akan berdarah-darah.

Padahal Wowo tadinya sangat yakin akan strateginya menjadikan ijtima ulama melegitimasi Salim Segaf Al-Jufri sebagai wakilnya. Namun diujung perjalanan menuju pendaftaran kontestan terjadi konflik.

Kembali soal logistik. PD tidak mau keluar uang kalau bukan AHY yang jadi cawapres. PD sadar Wowo engga akan menang walau Salim Segaf Al-Jufri pun jadi cawapres tanpa logistik yang cukup.

Disaat kebingungan mengusung icon perjuangan Islam garis keras dan keadaan logistik yang lemah. Akhirnya Wowo harus realistis. Dia lebih utamakan logistik.

Saat itulah, last minute, Sandi datang membawa solusi soal logistik. Sandi memang engga bawa uang. Tetapi financial solution. Itu semua diyakini oleh partai Koalisi walau disikapi dengan setengah hati.

Mereka akhirnya setuju menjadikan Sandi sebagai Cawapres. Sampai kini Kubu BOSAN mulai galau. Solusi to good to be true dari Sandi tempo hari tidak pernah terealisir.

Ternyata solusi sebenarnya adalah dana itu berasal dari anggota partai Koalisi. Dari rakyat pendukung PKS dan PAN. Sandi tagih ! Kan hebat. Bukan dia ditagih tetapi orang lain ditagihnya. Ini indikasi bahwa koalisi sudah lumpuh. Masuk jebakan batman dari ruling party.

Jam tidak bisa ditarik mundur. Kubu Bosan tentu meradang. Team ruling party hanya tersenyum melihat keadaan kubu BOSAN.

Begitulah cara mereka mendukung dan menempatkan kembali Jokowi sebagai presiden di periode kedua.

Jadi politik dan Pemilu itu bukan seperti nampak dipermukaan. Tidak seperti heboh di sosmed. Semua sudah didesign. Pemenang sudah ditentukan sebelum bertanding.

Bagi saya, itu tidak ada masalah. Karena tujuannya untuk melanjutkan perjuangan Jokowi.

Untuk menghindarkan negara dari kaum petualang. Untuk Indonesia lebih baik.

Memang harus smart. Karena hidup memang tidak ramah, Jenderal.
.
.
.
EJB / DDB

Diskusi di Facebook


Like it? Share with your friends!

Redaksi

Platform media yang menyajikan berita dari media arus utama di Indonesia.