Politik Racun Kalajengking Jokowi


Pernyataan Presiden Joko Widodo soal kalajengking sebagai komoditas dengan harga termahal diapresiasi. Memaksimalkan masyarakat agar memelihara kalajengking bisa menekan angka kemiskinan nasional.

“Kita apresiasi, ini bisa menjadi usaha bagi masyarakat demi mengurangi angka pengangguran dan mengentaskan kemiskinan,” kata peneliti Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Salamuddin Daeng kepada Kantor Berita Politik RMOL

Racun kalajengking merupakan komoditi termahal di dunia jika dibandingkan dengan emas. Salamuddin mengakui ajakan Jokowi untuk berbisnis racun kalajengking biar cepat kaya merupakan ajakan cemerlang.

Apalagi iklim Indonesia yang tropis sangat cocok untuk budidaya kalajengking.

“Ini isyarat untuk memulai bisnis racun kalanjengking yang disampaikan Presiden Jokowi merupakan lompatan besar yang tidak pernah terpikirkan oleh siapun,” imbuhnya.

Diberitakan sebelumnya Jokowi melontarkan tips cepat kaya dengan memelihara kalajengking. Hal itu disampaikan Jokowi di acara Musyawarah Rencana Pembangunan Nasional (Musrembangnas) dalam penyusunan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2019 di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Senin (30/4).

Dalam pidatonya Jokowi memaparkan tentang komoditas yang paling mahal di dunia bukan emas, melainkan bisa kalajengking. Kata dia, bisa kalajengking ini berharga 10, 5 juta dolar AS per liter atau jika dirupiahkan mencapai Rp 145 miliar per liter.

Atas alasan itu dia meminta para kepala daerah untuk mengumpulkan racun kalajengking jika ingin kaya, ketimbang harus mengkorupsi uang rakyat.

“Pak gubernur, pak bupati, pak walikota kalau mau kaya cari racun kalajengking,” ucap Jokowi

Dia lalu bicara soal harga komoditas-komoditas mahal. Namun, menurut Jokowi, harga barang-barang supermahal tersebut belum ada apa-apanya dibanding harga waktu.

Nah, pernyataan Jokowi soal racun kalajengking ini ramai di media sosial. Sejumlah elite parpol juga menilai Jokowi tak tepat bicara soal hal itu.

“Bahwa itu disampaikan dalam acara sekelas Musrenbangnas, maka menjadi tidak tepat. Bagaimana dalam momen penting sebuah musyawarah nasional membahas soal kalajengking?” kata Ketua Bidang Pemenangan Presiden PBB Sukmo Harsono.

Kritik juga datang dari Wakil Ketua Umum Gerindra Ferry Juliantono. Ferry menyebut pembahasan kalajengking itu menandakan Jokowi tak pantas lagi menjadi Presiden RI.

Golkar soal Kalajengking: Jangan Nyinyir!

Menurut Golkar, isi pidato Jokowi harus dimaknai utuh, jangan dangkal.

“Harus dipahami konteksnya pernyataan Pak Jokowi soal kalajengking itu. Beliau ingin men-challenge para kepala daerah dalam acara Musrenbangnas bahwa sesungguhnya potensi kekayaan alam yang dimiliki bangsa kita, terutama di daerah-daerah itu, luar biasa melimpahnya,” ujar Ketua DPP Golkar Ace Hasan Syadzily

Ace memandang pernyataan Jokowi soal kalajengking sebagai pengingat bahwa bangsa Indonesia punya sumber daya berlimpah yang dapat dipakai untuk kesejahteraan rakyat. Dia lalu membandingkan racun kalajengking dengan sampah.

“Potensi kekayaan alam tersebut harus dimaksimalkan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, termasuk kalajengking saja memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Jangankan kalajengking, sampah saja jika dikelola dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dapat menghasilkan nilai jual untuk tenaga listrik, pupuk, dan lain-lain,” tegas Ace.

“Jadi sebaiknya jangan terlalu banyak nyinyir deh sama Pak Jokowi. Biasa saja. Tanggapi dengan cerdas pernyataan presiden itu,” katanya.

PPP soal Kalajengking: Konteksnya Bicara Wirausaha

PPP membela Presiden Joko Widodo terkait pidato yang menyinggung harga racun kalajengking dalam forum Musrenbangnas. Wasekjen PPP Achmad Baidowi (Awiek) mengatakan pidato itu jangan dipahami sepotong-sepotong agar maksudnya utuh tersampaikan.

“Ya memahami pidato Jokowi jangan sepotong-sepotong biar tidak salah paham. Dalam konteks pernyataan tersebut ingin disampaikan bahwa peluang wirausaha cukup banyak dan harga paling besar bukan emas tapi racun kalajengking yang bisa dibuat bahan obat,” kata Awiek

Menurut Awiek, masyarakat saat ini hanya tahu bahwa emas adalah komoditas termahal. Padahal ada racun kalajengking. Pengungkitan racun itu oleh Jokowi, disebut Awiek, agar masyarakat mau berpikir luas.

“Karena di masyarakat masih terngiang bahwa yang paling mahal adalah harga emas. Ternyata perkembangan dunia bisnis mutakhir ada perubahan terhadap nilai sebuah barang,” ucapnya.

“Maka, sebenarnya ini peluang usaha yang jarang sekali diketahui masyarakat. Hanya, tidak sembarang orang bisa mengambil cairan kalajengking, tapi dibutuhkan kemampuan dan keahlian khusus baik dari aspek budidaya maupun cara pengambilan cairannya agar tidak berbahaya,” imbuh anggota Komisi II DPR itu.

PSI soal Kalajengking: Fadli Zon Ngawur

Menurut Uki, ada beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan oleh Fadli Zon sebelum mengomentari pernyataan Presiden. Dia mencatat setidaknya ada dua hal yang harus diperhatikan oleh pak Fadli sebelum merespons pidato Pak Jokowi, yakni konteks pidato dan substansi pidato.

“Tanpa pemahaman dua itu, justru respons Pak Fadli yang terkesan garbage in garbage out,” ujar Uki.

Uki menjelaskan bahwa secara substansi, dengan menyebut kalajengking sebagai komoditas yang paling mahal, pidato presiden tersebut mengajak para kepala daerah agar tidak menyia-nyiakan waktu, sebuah komoditas yang paling mahal.

“Mari kita lihat secara utuh pidato bagian kalajengking tersebut. Beliau mengatakan bahwa ada yang lebih mahal daripada komoditas termahal sekalipun, yaitu waktu. Sedangkan racun kalajengking di sini digunakan sebagai contoh komoditas yang mahal tersebut,” kata Uki.

Uki menambahkan, bahwa melalui pidatonya, Presiden menginginkan cara kerja yang cepat. Tantangan zaman ini menuntut semuanya bergerak cepat dan melewati birokrasi yang berbelit-belit.

“Buang-buang waktu yang dimaksud Presiden adalah cara kerja yang bertele-tele dan rantai birokrasi yang berbelit-belit, sedangkan tantangan zaman menuntut kita untuk bergerak sangat cepat,” kata Uki.

Uki menganggap bahwa kemajuan zaman yang tak dapat dihindari oleh Indonesia adalah sebuah tantangan tersendiri. Dalam konteks sebuah bangsa besar yang tidak dapat dipisahkan dari kemajuan global, Indonesia harus mampu berkompetisi dengan waktu.

“Revolusi 4.0 yang disebutkan oleh Presiden Joko Widodo hanyalah sebuah contoh dari banyaknya indikasi perubahan zaman yang begitu cepat. Kami menyambut positif trigger dari Presiden untuk segera berlari kencang dan tidak terjebak dalam rutinitas dan perdebatan tidak perlu,” katanya.

Menariknya, Uki juga menangkap kesan bahwa Presiden sedang melemparkan sindiran menghindari korupsi melalui ucapannya tentang komoditas racun kalajengking.

“Dalam pidato tersebut, Presiden juga mengatakan kepada kepala daerah, kalau mau kaya silakan ternak kalajengking. Saya menangkap sinyal bahwa presiden sedang mengingatkan para kepala daerah untuk tidak korupsi,” ujar Uki.

Ia pun menyarankan agar oposisi melihat pidato Presiden dari sudut pandang substansi dan bukan hanya menggulirkan hal-hal yang menjadi perdebatan.

“Saya menghormati Pak Fadli, tapi sebagai anak bangsa, saya menyarankan oposisi untuk fokus kepada substansi, bukan hanya yang remeh-temeh seperti memotong-motong ucapan Presiden dan menggulirkan hal tersebut menjadi perdebatan agar demokrasi ini segera berlari cepat menuju demokrasi substansial, demokrasi yang diinginkan oleh generasi milenial,” kata Uki.

PDI-P soal Kalajengking: Pengembangan Bisnis

Menanggapi hal ini, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menghormati komentar di masyarakat yang terkesan nyinyir tersebut. Namun, Hasto menilai bahwa apa yang disampaikan Jokowi adalah contoh tentang sumber daya ekonomi kerakyatan yang bisa dikelola.

“Ada ternak ayam buras, ternak lele dan berbagai hal yang ditawarkan pemerintah,” ujar Hasto saat dikonfirmasi, Kamis 3 Mei 2018.

Dalam hal ini, lanjut Hasto, Jokowi memahami persoalan-persoalan mendasar terhadap sesuatu yang bisa dikerjakan oleh rakyat.
Saat disinggung soal racun kalajengking yang berbahaya jika dikembangkan menjadi bisnis, Hasto menilai local wisdom di Indonesia sudah pernah ada.

“Kalau kita nonton wayang ada minyak kalajengking, buat obat-obatan itu bagus juga. Saya juga pernah pakai minyak kalajengking,” katanya.

Meski disebut Jokowi harga racunnya yang bisa meraup keuntungan, Hasto menganggap hal itu bagian dari pengembangan bisnis yang bisa diteliti lebih lanjut. “Kan diversifikasi terhadap produk itu banyak, tentunya yang disampaikan Pak Jokowi juga disertai komitmen pemerintah untuk mengembangkan penelitian dari situ,” pungkasnya.

Diskusi di Facebook


Like it? Share with your friends!

Redaksi Portal
Platform media yang independen/netral tidak berpihak kepada siapapun yang menyajikan berita dari media arus utama di Indonesia.