Sebar HOAX Untuk Pengalihan Isu Agama


SEBAR HOAX UNTUK PENGALIHAN ISU AGAMA

Tim kampanye Prabosan pusing. Sebuah video yang diposting seorang kemenakan Prabowo bikin heboh. Sebetulnya isinya biasa saja, kegembiraan dalam acara Natal keluarga.

Persoalannya di acara itu ada Prabowo. Dia berjoget riang. Hatinya berbunga merayakan hari raya. Sebuah kegembiraan yang jarang ditemui ketika Prabowo dalam suasana lebaran. Padahal selama ini Prabowo diakui sebagai muslim.

Apalagi para pendukungnya banyak dimobilisasi dari masjid-masjid dan pengajian ustad-ustad politik pengasong agama. Ketika mengetahui Prabowo merayakan Natal, para pendukung mulai goyah.

“Saya gak mungkin toleransi dengan Capres yang gak jelas agamanya,” ujar seorang teman yang selama ini mendukung Prabowo. Dia dikenal aktif di masjid. “Mungkin saya memilih Golput. Saya gak berani bertanggungjawab pada akhirat saya,” katanya.

Isu ini ditambah dengan usulan dai Aceh, yang meminta Capres dites baca Alquran. Bagi Aceh, usulan itu biasa saja. Karena memang salah satu aturan pemelihan Kepala Daerah, wajib dites baca Alquran.

Tapi usulan itu penampar pipi yang gembil. Gimana mau tes baca Quran, ngomong gelar Rasulullah saja yang muncrat ‘hulaihi”. Bicara Allah saja, yang lompat dari mulutnya ‘watuloh’. Padahal pipi kanannya sudah kena tampar dengan kasus video Natal.

Tamparan itu, selain membuat tanda merah di pipi bekas gambar tanganmu, juga membuat pendukungnya gerah. Masa Capres rekomendasi Ijtima Ulama malah Natalan dan gak bisa baca Alquran. Apa gak ngaco, tuh?

Tim kampanye pusing tujuh keliling. Mereka berfikir keras bagaimana cara mengalihkan isu. Tadinya mereka berharap adanya bencana di Lampung dan Banten bakal menutup berita tentang Natalan Prabowo dan tes baca Alquran. Ternyata gak juga.

Mulailah dicari cara lain. Prabowo melempar isu yang meresahkan, RS dan dokter menggunakan slang darah tidak steril pada penanganan cuci darah. “Satu slang dipakai 40 pasien,” ujarnya.

Kabar ini sangat sensitif bagi keluarga pasien cuci darah. Sama saja menyodorkan diri untuk dibunuh dengan selang yang dipakai bergantian. Prabowo menuding rumah sakit dan dokter melakukan mal praktek. Pelanggaran profesi yang serius. Apa dokter-dokter kita sebiadab persangkaan Prabowo?

Dokter dan RS protes keras dengan pernyataan Prabowo. Karena disadari banyak dokter merupakan pendukung Prabosan yang aktif, akhirnya mereka menahan diri untuk mengampifikasi hoax slang cuci darah. Pasukan cyber yang sudah bersiap bekerja untuk mengalihkan isu, ditahan dulu.

Perlu dipikirkan hoax lain untuk mengalihkan. Gayung bersambut, bukan untuk wudhu. Andi Arief, entah dari mana mencuitkan ada 7 kontainer surat suara yang hilang di Tanjung Priok. Wah, isu yang bagus nih.

Dengan hoax ini akibatnya akan menurunkan kepercayaan orang pada KPU, ujungnya membuat rakyat curiga dengan hasil Pemilu. Klop dengan statemen Prabowo beberapa waktu lalu. “Kalau kita kalah Indonesia akan punah.”

Bagaimana cara membuat Indonesia punah? Bikin perang sipil. Buat konflik antar masyarakat. Salah satunya, ciptakan isu Pilpres berlangsung curang. Gosok rakyat dengan keresahan.

Soal surat suara itu, jelas hoax. Wong, barangnya belum dicetak, masa sudah dinyatakan hilang. Tapi jika melihat pergerakannya, sejak semalam pasukan cyber mereka bergerak serius mengamplifikasi hoax ini. Statistik pembicaraan meningkat tajam sejak tadi malam. Masuk ke group-group WA. Ramai di media sosial.

Padahal sang pelempar hoax sendiri, Andi Arief, sudah menghapus twitnya.

Tujuannya, agar orang gak bicara lagi apa agama Prabowo. Semua fokus ke umpan baru.

“Mas, kok repot banget sih, pakai tes baca Alquran segala. Padahal kan cukup baca syahadat aja di depan publik, agar orang percaya,” ujar Abu Kumkum.

Eko Kuntadhi (Page KataKita)

Diskusi di Facebook


Like it? Share with your friends!

Redaksi

Platform media yang menyajikan berita dari media arus utama di Indonesia.