Ucapan Politikus yang Hebohkan Panggung Politik 2018


jokowi prabowo

Tahun 2018 menyisakan sejumlah cerita dari politikus tanah air. Di antara cerita itu, ucapan para politikus merupakan salah satu yang menarik untuk dilihat kembali. Sebab selain mengundang perhatian publik lantaran penuh kontroversi, ucapan-ucapan itu menjadi penanda bahwa tensi politik di 2018 mulai memanas. kumparan mencatat, sedikitnya ada delapan ucapan yang dilontarkan lima politikus berbeda. Masing-masingnya unik karena menciptakan suatu istilah baru yang sebelumnya tidak pernah terdengar di hingar-bingar politik tanah air. Berikut merupakan delapan ucapan tersebut.

1. Indonesia Bubar 2030

Pernyataan bombastis itu, sebanarnya dilontarkan Prabowo Subianto saat temu kader nasional Partai Gerindra di Bogor, Jawa Barat, Oktober tahun 2017. Namun, pernyataan itu baru viral di Maret 2018 semenjak Gerindra mengunggah video pernyataan Prabowo di Facebook. “Mereka sudah bikin kajian-kajian di mana Republik Indonesia sudah dinyatakan tidak ada lagi tahun 2030, bung. Mereka ramalkan kita ini bubar!,” kata Prabowo.

Sontak pernyataan Prabowo itu direspons negatif oleh lawan-lawan politiknya. Belakangan, terungkap bahwa pernyataan Prabowo itu berdasarkan pada sebuah novel fiksi berjudul ‘Ghost Fleet’ yang ditulis Peter Warren Singer, penulis asal AS.

2. Partai Allah dan Partai Setan

Politikus senior PAN Amien Rais menyebut di Indonesia ada partai setan dan partai Allah. Pernyataan tersebut diungkapkannya usai mengikuti Gerakan Indonesia Salat Subuh berjemaah di Masjid Baiturrahim, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Jumat (13/4).”Orang-orang yang anti Tuhan, itu otomatis bergabung dalam partai besar, itu Partai Setan. Ketahuilah partai setan itu mesti dihuni oleh orang-orang yang rugi, rugi dunia rugi akhiratnya. Tapi di tempat lain, orang yang beriman bergabung di sebuah partai besar namanya hizbullah, Partai Allah. Partai yang memenangkan perjuangan dan memetik kejayaan,” ucap Amien.

Pernyataan itu pun berbuntut pada pelaporan dirinya ke Subdit Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Metro Jaya. Amin dilaporkan atas dugaan kasus ujaran kebencian. Meski demikian, kasus tersebut hingga saat ini masih belum menemukan titik terang.

3. Jenderal Kardus

Istilah Jenderal Kardus berembus dari cuitan Wasekjen Partai Demokrat Andi Arief. Melalui akun Twitternya, Andi tampak geram dengan keputusan Prabowo Subianto yang meminang Sandiaga Uno sebagai cawapres. “Prabowo ternyata kardus, malam ini kami menolak kedatangannya ke kuningan. Bahkan keinginan dia menjelaakan lewat surat sudah tak perlu lagi. Prabowo lebih menghatgai uang ketimbang perjuangan. Jendral kardus,” kata Andi, Sabtu (8/8).

Cuitan Andi itu lantas berbuntut panjang. Apalagi dia menyebut ada mahar senilai Rp 1 triliun untuk PKS-PAN dari Sandiaga supaya bisa jadi cawapres Prabowo. Tudingan ini berbuntut panjang hingga ke Bawaslu. Meski demikian, isu ini pun akhirnya mereda. Dua pekan setelah isu ini berembus, Bawaslu menyebut tak ada pelanggaran pemilu atas dugaan mahar politik tersebut.

4. Tempe Setipis ATM

Sadiaga Uno mengaku mendapat banyak keluhan dari masyarakat. Keluhan itu berupa harga bahan pokok yang naik, keterbatasan lapangan kerja, hingga rendahnya daya beli. Dari keluhan itulah tercetus istilah tempe setipis ATM. “Tempe katanya sekarang sudah dikecilkan dan tipisnya udah hampir sama dengan kartu ATM. Ibu Yuli di Duren Sawit kemarin bilang, jualan tahunya sekarang dikecilin ukurannya,” kata Sandiaga di kediaman Prabowo Subianto, Jakarta Selatan, Jumat (7/9).

Pernyataan Sandiaga itu membuat sejumlah orang mempertanyakan wujud tempe setipis ATM. Bahkan, sebuah kelompok masyarakat yang menamakan diri sebagai Aliansi Masyarakat Sipil untuk Indonesia Hebat mengadakan lomba memotong tempe seperti itu.

5. Politikus Sontoloyo

Saat menghadiri acara bagi-bagi sertifikat tanah di Kebayoran Baru, Selasa (23/10), Presiden Jokowi mengingatkan agar warga berhati-hati dengan politikus sontoloyo. Pernyataan itu dilontarkan usai menyinggung dana kelurahan yang mendapat banyak kritik dari sejumlah politisi dari kubu oposisi.”Kalau masih pakai cara-cara lama seperti itu, masih memakai politik kebencian, politk sara, politik adu domba, politik pecah belah, itu namanya politik sontoloyo,” kata Jokowi.

Meski demikian, Jokowi tak secara spesifik menyebut siapa sosok politikus sontoloyo tersebut. Pernyataan itu pun berbuah polemik yang menghiasi pemberitaan media.

6. Tampang Boyolali

Ucapan mengenai tampang Boyolali terucap dari bibr Prabowo Subianto. Pernyataan tersebut dilontarkan dalam sebuah pidatonya saat meresmikan Posko Badan Pemenangan Prabowo-Sandiaga Uno Kabupaten Boyolali, Selasa (30/10). Potongan pidato itu pun viral di media sosial. Dalam pidato itu, Prabowo sedang berbicara mengenai belum meratanya kesejahteraan ekonomi di Indonesia. Ia memberi perumpamaan orang Boyolali yang belum pernah masuk hotel mahal.”Kalian kalau masuk, mungkin kalian diusir. Tampang kalian tidak tampang orang kaya, tampang-tampang kalian ya tampang orang Boyolali ini. Betul?” kata Prabowo kepada para pendukungnya.

Ucapan Prabowo itu pun dimaknasi beragam. Pihak Prabowo menyebut ucapan itu merupakan candaan semata, sementara yang lainnya menyebut ungkapan itu sebagai pelecehan.

7. Politik Genderuwo

Presiden Jokowi kembali memperkenalkan istilah baru yang disebut politik genderuwo. Jokowi menyebut istilah itu saat membagikan 3.000 sertifikat tanah di GOR Tri Sanja, Kabupaten Tegal, Jumat (9/11/).

Jokowi mengungkapkan, pada tahun politik seperti saat ini, banyak politikus tidak beretika yang menggiring keresahan masyarakat. Politikus kerap menyebarkan propaganda untuk menakut-nakuti dan membuat masyarakat khawatir.“Cara-cara seperti ini adalah cara-cara politik yang tidak beretika. Masa masyarakatnnya sendiri dibuat ketakutan? Enggak benar kan? Itu saya sampaikan itu namanya politik genderuwo, nakut-nakuti,” ungkap Jokowi.

Sumber : Kumparan

Diskusi di Facebook


Like it? Share with your friends!

Redaksi

Platform media yang menyajikan berita dari media arus utama di Indonesia.